ISLAM ID

ISLAM ID

Portal Berita Islam Anti Hoax

Hot

Post Top Ad

Post Top Ad

Minggu, 11 Maret 2018

Ita Meiga Fitri. Katolik Taat Masuk Islam Karena Kalah Debat

Maret 11, 2018 0
Ita Meiga Fitri dulunya adalah seorang misionaris yang telah mengkristenkan banyak orang. Dia selalu mampu mempengaruhi orang-orang untuk mau menerima Katolik, tetapi terhadap orang-orang yang kritis, justru dia menjadi bulan-bulanan atas argumentasi teologisnya.
Dan akhirnya mengubah Imannya 180 derajat.

Bagaimana ini bisa terjadi?
Ustadzah berdarah Tionghoa ini besar dan dididik dalam keluarga Katolik taat, hingga ia menyelesaikan S2 dan berprofesi sebagai advokat sekaligus mengemban tugas sebagai misionaris.
Beliau memandang negatif orang Islam dan agamanya, bahwa kebanyakan mereka bodoh dan terbelakang, tentang tata cara hidupnya yang ribet, dan banyak lagi stigma negatif yang melekat pada diri umat Islam yang dia tuduhkan.

Suatu ketika, dia bekerja di lingkungan orang-orang Islam. Hal ini membuatnya merasa tertantang untuk memurtadkan mereka.

Bangga dengan identitasnya, seringkali dia mempraktekkan tata cara nasrani di tempat itu. Misalnya ketika akan memasuki ruangan, dia selalu memperagakan signum crucis yaitu gerakan tangan membentuk tanda salib setiap akan memasuki ruangan, atau pada saat mulai makan.

Sampai seorang teman menyindirnya mengapa dia selalu mengusir lalat di wajahnya. Spontan dia marah dan beradu argumen. Orang Islam kalau kentut yang dibersihkan wajahnya, itu tidak masuk akal! balas dia.

"Kalau kamu sakit kepala dan pergi ke dokter, yang disuntik pantat, tetapi yang sembuh tetap kepala." Jawab temannya yang diiyakan dalam hati olehnya.

Begitulah. Setiap kali berdebat, argumen-argumennya mudah dikalahkan, sehingga dia merasa kurang. Banyak yang harus dia pelajari untuk mencari kelemahan orang Islam.

Dia lantas pergi ke toko buku dan mencari sesuatu yang dia pikir sumber pedoman orang Islam. A haa..sebuah Al Qur'an sudah ada di tangannya.

Merasa senang, dia bergegas pulang ke rumahnya. Di rumah, bingung sendiri.
Ada apa?
Dibukanya buku itu yang sampul depannya ada tertulis dengan hurup kapital 'AL QUR'AN'. Halaman satu, tidak ada tulisan yang dia kenal, hanya tulisan asing yang mirip tulisan alien di filem-filem fiksi Hollywood. Halaman dua, begitu juga. Halaman tiga dan seterusnya, gambar-gambar yang bisa menjelaskan makna tulisan juga tak ditemukannya barang satu pun.

*****

Keesokan harinya, masih pagi-pagi. Seorang wanita sudah berdiri di depan toko buku yang bahkan belum buka di jam itu.
Hanya satu tujuannya, menemukan mushaf Al Qur'an lengkap dengan terjemahan bahasa Indonesia.
Sekian lama Meiga mendalami Al Qur'an, belum ada kesalahan yang ditemukannya. 

Dia membaca Al Qur'an pada surah Al Baqarah ayat 173
إِِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَۃَ وَالدَّمَ وَ لَحْمَ الخِنزِيْرِ وَمَا أُهِلَّ بِهِ لِغَيْرِﷲِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْر بَاغٍ وَلاَ عَادٍ فَلاَ إِثْمَ عَلَيْهِ إِنَّ ﷲَغَفُرٌ رَّحِيْمَ
"Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah, daging babi dan binatang (yang ketika disembelih) disebut (nama) selain Allah."

Tibalah dia menyandingkannya dengan Alkitab yang biasa dia baca.

Dia membuka Imamat 11 : 7-8 

"Demikian juga babi hutan, karena memang berkuku belah, yaitu kukunya bersela panjang, tetapi tidak memamah biak; Haram itu bagimu.
Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; Haram semuanya itu bagimu."

Dia mendapati kesamaan dua ayat dari dua agama tersebut, tetapi dia menyadari bahwa umat Islam lah yang mengamalkan ayat itu, bukan umat Kristen.

Adapun babi hutan yang tertulis di Imamat, bukan menjadi alasan babi peliharaan bisa dimakan, toh babi tetaplah babi, dipelihara atau liar tetaplah binatang yang berkuku belah. Dan merujuk kembali ke Alkitab yang dia pahami. Persolan antara babi dan babi hutan di Imamat, hanyalah perubahan yang dibuat kalangan otoritas Gereja. Dia tahu betul dulunya di Imamat yang diterbitkan sebelum tahun 1996 yang tertulis haram adalah babi tanpa tambahan babi hutan, artinya pengharaman babi secara umum.

Kenapa hal itu berubah? Apa hak manusia mengubah  firman Tuhan?

Sedangkan pada Al Qur'an, persoalan babi apa pun jenisnya sudah permanen haram. Tidak pernah orang Islam mengubahnya sejak dulu.

Pikirannya mulai terbuka, dia mulai berpikir kritis, tidak mau lagi menelan mentah-mentah dogma-dogma iman. Dia harus mempelajari banyak hal dalam agama Katolik maupun Islam.

Dalam persoalan lain yang berkaitan dengan pakaian. Dia membuka Korintius 11:5

"Tetapi tiap-tiap perempuan yang berdoa atau bernubuat dengan kepala yang tidak bertudung, menghina kepalanya, sebab ia sama dengan perempuan yang dicukur rambutnya."

"Apakah pantas seorang wanita berdoa tanpa memakai tudung?" Pikirnya

Tetapi kebanyakan wanita Kristen mengabaikan persoalan ini, tudung hanya dipakai oleh suster atau biarawati. Apakah hanya suster atau biarawati yang berdoa di hadapan Tuhan? Justru wanita-wanita muslim yang mengamalkan perintah ini melihat mereka mengenakan jilbab dalam shalat maupun dalam keseharian mereka.

Dia lalu mencari-cari alasan kenapa wanita muslim memakai jilbab, kira-kira apa pedoman mereka. Didapatinya sebuah ayat dalam Al Qur'an yang menerangkan masalah ini, Al Qur'an surah Al Ahzab ayat 59
يٰٓاَ يُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لِّاَزْوَاجِكَ وَبَنٰتِكَ و نِسَآءِالْمُؤْمِنِيْنَ يُدْنِيْنَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلَابِيْنِهِنَّۗ ذٰلِكَ اَدْنٰیٓ اَنْ يُعْرَفْنَ فَلَايُؤْذَيْنَۗ وَكَانَ        
ﷲُغَفُوْرًارَّحِيْمًا
"Wahai nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin. "Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka." Yang demikian itu agar mereka lebih mudah dikenali, sehingga mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang."

Lebih jauh dia meneliti masalah sunat (khitan/circucisio) yang banyak tertulis dalam Injil. Bahwa Yesus juga disunat seperti yang tertulis dalam Lukas 2:21

"Dan ketika genap 8 hari dan ia harus disunatkan, Ia diberi nama Yesus yaitu nama yang disebut oleh malaikat sebelum Ia dikandung ibu-Nya."

Dan secara tegas perintah sunat diwajibkan pada injil

Kejadian bab 17 ayat 9-11
"Lagi firman Allah kepada Abraham "Dari pihakmu, engkau harus memegang perjanjianKu, engkau dan keturunanmu turun temurun."
"Inilah perjanjianKu, yang harus kamu pegang, perjanjian antara Aku dan kamu serta keturunanmu, yaitu setiap laki-laki diantara kamu harus disunat."
"Haruslah dikerat kulit khatanmu dan itulah perjanjian antara Aku dan kamu."

Sedangkan dalam Islam, perintah sunat ada dalam hadits ini
Telah bersabda Rasulullah Shallallahu Alihi Wasallam "Barangsiapa masuk Islam, maka berkhitanlah, sekalipun sudah dewasa."

Bagi Ita, perintah sunat lebih banyak dan lebih tegas di dalam injil. Tetapi pada kenyataannya umat Islam lah yang melaksanakan perintah ini, mereka menjadikan perintah tersebut wajib. Sedangkan bagi umat Kristen perintah ini juga banyak diabaikan bahkan oleh para pendeta sekalipun.

Meiga makin bingung. Dia harus menemui orang yang lebih faham Alkitab daripada dia. Dia teringat sosok pastor yang berasal dari Wamena, Papua.  Ditemuinya pastor tersebut di sebuah gereja dan sang pastor hanya memberikan jawaban enteng.

"Segala persoalan itu ada dalam perjanjian lama (hukum Taurat), kita saat ini hidup dalam perjanjian baru."

Meiga lalu mengingat Matius bab 5 ayat 18

"Karena Aku berkata kepadamu: Selama belum lenyap langit dan bumi ini, satu iota atau satu titik pun tidak akan ditiadakan dari hukum Taurat, sebelum semuanya terjadi."

Dia menjadi lebih berani menantang sang pastor untuk membuktikan bahwa Yesus sebenarnya Muslim, setidaknya menurut pengertiannya. Meiga punya bukti-buktinya sebagaimana yang dia temukan pada Injil Markus bab 14 ayat 35:

"Ia maju sedikit, merbahkan diri ke tanah dan berdoa supaya, sekiranya mungkin saat itu lalu daripadanya."

Meiga yakin ayat tersebut adalah salah satu bukti bahwa apa yang disangkakan kepada Yesus benar.

Sampai pada saat itu, Meiga merasa tidak bisa lagi mempertahankan iman Katoliknya. Dua kalimat syahadat diucapkannya dengan mantap.

Dia lalu belajar agama Islam di pondok pesantren (pp) Al Hawaariyyun di Jogyakarta. Di tempat ini, Ilmu tauhidnya semakin mantap. Siap mendakwahkan Islam secara ikhlas lahir batin.

Pilihan Meiga menjadi muallaf bukan tanpa halangan, keluarganya lah yang paling keras menentangnya. Ibunya sangat marah, menyangka anaknya terpengaruh ajaran radikal. Anaknya protes, menyesalkan ibu yang membesarkannya berpindah keyakinan ke agama yang jahat, suka membom gereja, bahkan suka menikahi anak di bawah umur, mereka semua orang Islam.

Meiga mencoba menenangkan anaknya, memberinya pemahaman yang baik tentang Islam. Meiga mengatakan bahwa orang Islam memang ada yang berbuat kejahatan seperti itu. Tetapi baginya wajar, kejahatan ada di setiap masyarakat. Dan kenapa di Indonesia pelaku kejahatan kebanyakan orang Islam? Karena di Indonesia masyarakatnya mayoritas Islam.

Kemuadian dia memberikan gambaran besar, bahwa di luar negeri, negara semisal mexico, gembong narkotika di negara itu semua orang Katolik. Bukan orang Islam. Di Filipina, orang-orang miskin dan bodoh semua Katolik, bukan orang Islam. Sedangkan di Thailand, para pelacur disana orang Budha dan Katolik. Bukan orang Islam.

Pernah juga anaknya memprotes orang Islam yang menanggalkan sepatu dan sandal ketika memasuki masjid tapi Meiga mampu memberinya dalil yang kuat dalam Alkitab pada Kisah Rasul-rasul bab 7 ayat 33

"Lalu firman Allah kepadanya: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, dimana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus."

Tantangan dakwah Ustadzah Meiga juga datang dari luar, beberapa kali beliau diancam agar menghentikan dakwahnya. Tetapi dia yang telah memperoleh iman Islam, tidak gentar meski nyawa menjadi taruhannya.

Bahkan dia pernah menghuni sel lantaran kena fitnah pasal penghinaan agama. Jeruji besi memang memenjarakan fisiknya tetapi tidak jiwanya yang haus ilmu Islam sehingga dia makin leluasa mendalami syariat Islam di tempat tertutup seperti itu.


Dakwah ustadzah Meiga semakin luas. Dia makin populer di mata umat Islam. Dia selalu diundang mengisi ceramah dan pengajian.

***

Pagi itu matahari bersembunyi di balik lagit berkabut, udara terasa lain. Tak seperti biasanya. sebuah Toyota Innova melaju di atas aspal tol  Palikaci, Cirebon. Sang supir, memandu mobil itu dengan tenang, tetapi matanya yang yang sayu tak mampu menyembunyikan rasa kantuk yang menghinggapinya.

Didepannya sebuah bus Luragun Jaya dalam jarak yang terlalu dekat berjalan di jalur yang sama.

Tiba-tiba...
Prakkk
Toyota Innova berwarna silver itu menghantam bagian belakang bus Luragun Jaya, membuatnya terhempas jauh keluar dari jalanan tanpa bisa dikendalikan sang supir.

****
Polisi yang tiba di TKP beberapa saat setelah kejadian dengan cepat dapat mengidentifikasi para korban yang selamat maupun tidak selamat. Ustadzah Meiga Fitri adalah salah satu korban yang meninggal di tempat dalam posisi terjepit dalam mobil. Dia meninggal bersama anaknya yang masih berumur 4 tahun.



Selamat jalan wahai bidadari surga.
Read More

Minggu, 11 Februari 2018

Rumah Pak Dar Kebakaran

Februari 11, 2018 0
Hei, teman. Ada kebakaran...!
Teriak panik Irmawin teman kantorku dari seberang jalan.
"Ahh bercanda" pikirku santai mengingat teman yang satu ini memang sering
membuat kekonyolan dan hoax. Aku masih duduk santai dan melanjutkan kerja laporan penjualan sore itu.
Perusahaan P&G tempatku berkarir memang mewajibkan kami para sales membuat laporan penjualan setelah seharian berjualan mengelilingi pelosok kota Barru.

Sontak, aku ikut berhambur keluar ketika teman di sebelah dudukku menyadari ada yang tidak beres dan segera keluar memeriksa keadaan. Benar saja, asap hitam nan tebal sudah membumbung tinggi dari kejauhan.

"oh, Tuhan. Asap itu dari arah rumahku"
Batinku gelisah, otakku tiba2 jadi beku, tenggorokan seperti tecekat tak mampu berkata-kata.
Kulirik motor putih yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri terpaku, sial. Sadle bag  dan barang-barang sisa jualan masih terpasang di sadle nya, pasti lama membereskannya. Ahh, kukayuh saja langkahku meski kaku, berlari menembus kerumunan orang yang datang dari berbagai tempat, sekedar untuk mengabadikan peristiwa itu dengan kamera ponselnya.

Di pikiranku terbayang-bayang ayah yang biasanya menyalakan kompor tapi lupa mematikan apinya, bukan hanya sekali ayah melakukan kecerobohan seperti itu di dapur, pernah juga seisi rumah diselimuti bau gas karena dia mematikan kompor dengan tidak sempurna.

Di usianya yang sudah senja, ayah terpaksa melakoni pekerjaan dapur itu setelah mama meninggal beberapa tahun yang lalu, tidak ada lagi perempuan di rumah ini, aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Satu hal yang kuakui masakan ayah cukup enak, ayah memang jago masak. Sedangkan aku, sungguh payah, telur goreng saja selalu gosong di tanganku, kalau tidak hambar, pasti keasinan. Jadi urusan dapur dimonopoli ayah, aku biasanya hanya menyuplai uang belanja dan bahan-bahan baku yang jika sempat kubeli dalam perjalanan pulang dari berjualan.

"Ya Allah selamatkan orangtuaku...."
"Dimana kami harus tinggal..."
Aku berlari sambil menangis, bermacam-macam pikiran masih memenuhi kepalaku bergonta-ganti seperti sebuah slide yang tak ada habisnya.

Sampai di rumah, hawa panas menyambutku, seolah memberi isyarat untuk tidak mendekat. Kulihat kobaran api merah meninggi melampaui tinggi atap rumahku. Itu rumah pak Dar, tetangga dekatku, rumah besarnya sudah musnah dilalap api Aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa, tenagaku sudah banyak terkuras saat berlari dari tempat kerjaku.


Segala doa komat kamit keluar dari mulutku berpacu dengan tarikan nafasku yang tersengal-sengal. Sebentar lagi apinya menjalar ke rumahku, pikirku mencoba memprediksi.

Dengan sisa tenaga, kuambil air seember, kupanjati tembok pemisah rumah kami, lalu mengambil posisi di atap seng, berharap apinya tidak semakin membesar, 1 ember, 2 ember, berulang-ulang orang-orang PMI yang ikut membantu mensuplai air dari bawah.

Tenagaku tidak cukup besar, airnya tidak cukup banyak, apinya tak kunjung mengecil seolah menertawakan ketidak berdayaan kami. Kali ini aku benar-benar ambruk tenagaku habis, hanya pakaian basah yang masih kurasakan di badanku, basah karena air bercampur keringat, tubuhku tidak mampu lagi digerakkan, aku pasrah.

Tiba-tiba air memercik di atas kepalaku, kucoba membuka mata meski memicing, samar-samar kulihat sang surya masih tinggi di ufuk barat, ini bukan hujan, gumamku mencoba menebak. Benar saja, bantuan sudah datang, mobil damkar kabupaten sudah tiba, si jago merah yang tadinya perkasa pelan tapi pasti menciut tak kuasa membendung berkubik-kubik air yang disemprotkan oleh petugas pemadam kebakaran dengan bertubi-tubi.

Rasa syukur bercampur haru, aku berusaha bangkit. Kulihat pak Darmawan mengais-ngais sisa reruntuhan rumahnya yang kini jadi arang. Mungkin dia mencari barang berharga yang bisa diselamatkan bukankah emas hanya meleleh jika terkena panas, zat nya tidak hilang menguap.

"Pak, tegar ya pak." Teriakku menyemangati dari atas.
"Bukan apa yang hilang pak, tapi apa yang masih ada." Lanjutku
Dia mengangguk tanda setuju, pak Darmawan memang kehilangan rumah dan beberapa sepeda motor, tetapi seluruh anggota keluarganya selamat, aset2 produksinya juga masih berjalan di pusat perdagangan kota Barru.   Harta bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa digantikan.

Dari hasil penyelidikan polisi, penyebab kebakaran diakibatkan kecerobohan seseorang yang membakar sampah di tengah terik panas matahari. Sang pelaku sendiri tak pernah dimintai pertanggung jawaban apalagi diproses hukum (konon keluarga si pelaku adalah aparat berpangkat) Hanya Pak Dar sungguh apes, bagian belakang rumahnya kecipratan api pembakaran yang tertiup sang bayu.

Barru, 15 September 2014
Read More

Minggu, 28 Januari 2018

Pertempuran Karansebes, Ketika Pasukan Islam Mengalahkan Koalisi Pasukan Eropa Tanpa Peluru dan Korban Jiwa

Januari 28, 2018 0
Ada pepatah mengatakan bahwa dalam pertempuran yang kalah menjadi abu dan yang menang menjadi arang nampaknya tidak berlaku bagi pasukan Turki Utsmani. Pasukan Utsmani memenangkan pertempuran dan menaklukkan satu wilayah tanpa menembakkan sebutir peluru dan pastinya juga tanpa korban jiwa di pihak mereka.

Baca juga :

Terdengar konyol dan mustahil, tetapi kisah ini nyata dan pernah terjadi.

Perang ini terjadi pada tanggal 17 September 1788 di sebuah daerah bernama Karansebes (sekarang Rumania).

Perang Karansebes adalah satu dari serentetan peperangan antara Turki Utsmani melawan Austria yang terjadi dalam rentang tahun 1787 hingga 1791.

Sejarah mencatat kehebatan pasukan muslim menaklukkan Eropa, pasukan muslim di bawah bendera Utsmaniah menjadi kekaisaran adi daya yang kekuasaannya membentang dari daratan Asia, afrika dan Eropa.

Turki Utsmani (Ottoman)

Bagaimana perang Karansebes terjadi?

Peristiwa ini diabadikan oleh A J Gross Hoffinger dalam bukunya yang berjudul Geschichte Josephs des zweiten 59 tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Ketika itu Austria berusaha sekuat tenaga membendung laju pasukan Utsmani menancapkan kekuasaannya sejengkal demi sejengkal tanah Eropa, untuk itu Austria bersekutu dengan Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Mereka mengumpulkan segenap kekuatan, mendatangkan alutsista yang paling canggih yang mereka miliki, meriam super dahsyat, pemanah-pemanah dari Italia, serta pasukan-pasukan dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya.

Tercatat pada waktu itu aliansi Eropa memiliki jumlah pasukan lebih dari  100 ribu orang siap merepotkan pasukan utsmani.

Mereka melakukan persiapan di daerah Karansebes, seperti biasanya sembari menunggu kedatangan pasukan utsmani dan mempersiapkan pertahanan sekuat mungkin, waktu senggang mereka habiskan untuk bersantai.

Beberapa pasukan Hussar (kavaleri) ditugaskan mencari lokasi kehadiran pasukan Utsmani, mereka pun menyeberangi sungai Timis, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran pasukan Utsmani di sana, yang ada hanya orang-orang Gipsi (Orang Rumania) yang menawarkan Schnapps (tuak tradisional) kepada mereka. Di tempat itu mereka minum-minum sampai mabuk.

Tak berapa lama kemudian datang pasukan infanteri yang juga ditugaskan melintasi sungai Timis, kedua pasukan ini bertemu, pasukan infanteri juga ingin ikut minum-minum namun pasukan kavaleri tidak ingin berbagi dengan mereka.

Gambar ilustrasi

Dalam kondisi mabuk, cekcok terjadi antara mereka menjadi semakin panas, tiba-tiba seseorang di antara mereka mulai menembakkan senjatanya, mereka semakin kalap, perkelahian satu sama lain semakin hebat. Pasukan infanteri menerikkan kata-kata "Turci ! Turci !" (Turki) untuk menakuti mereka agar membubarkan diri.

Tetapi blunder terjadi, semua pasukan panik menyangka pasukan Turki Utsmani telah datang menyerang, mereka berhaburan, lari pontang panting menuju posisi masing-masing. Karena mereka masih dalam pengaruh alkohol, kawan-kawan mereka disangka pasukan Turki, mereka menembaknya dan saling tembak antara mereka terus terjadi.

Kesalah pahaman bahasa terus menjadi blunder fatal di antara pasukan Eropa ini ketika perwira-perwira yang berbahasa Jerman menerikkan kata-kata "halt! halt!" yang maksudnya perintah untuk berhenti yang malah dianggap pasukan lain sebagai kata "Allah! Allah!

Baca juga :


Di titik lain pasukan Hussar sudah kembali ke markas mereka di seberang sungai Timis, masing-masing sudah berada di belakang moncong meriam mereka. Perwira Austria mengira serangan itu dari kavaleri Utsmani, dan memerintahkan menghujaninya dengan meriam.

Mendengar dentuman suara meriam, pasukan yang lain terbagun dan panik berlarian, mengira pasukan Utsmani ada dimana-mana sehingga mereka juga menembak kemana-mana.

Pasukan yang tersisa dari insiden itu mulai menyelamatkan diri, mereka mundur dari garis pertahanan mereka yang tadinya begitu kokoh.

Dua hari kemudian barulah pasukan Utsmani tiba di Karansebes, namun yang mereka jumpai hanyalah kerusakan dan mayat-mayat pasukan Eropa yang bergelimpangan dimana-mana.

Iring-iringan pasukan Turki Utsmani

Karansebes pun dikuasai oleh pasukan Utsmani dengan begitu mudah.

Kisah ini terdengar konyol, namun begitulah sejarah menuliskan apa adanya. Dalam Islam, khamr sangat diharamkan karena merupakan sumber keburukan. Sejarah pernah menuliskan kehebatan imperium Islam Turki Utsmani, namun sejarah juga yang menuliskan masa-masa kemundurannya dan akhirnya runtuh pada tahun 1922.

Sejarah kemunduran Turki Utsmani salah satunya disebabkan oleh khamr, ya khamr. Itu tidak salah. Pada masa pemerintahan sultan Murad III merebak kebiasaan buruk dalam masyarakat dan elit ketentaraan Utsmani yaitu bermabuk-mabukan, sultan Murad III berusaha memberantas penyakit masyarakat ini.

Baca juga :



Namun pada waktu itu Janissary yang dulunya sebagai pasukan elit dan garda terdepan pengawal Utsmani menjelma menjadi seperti benalu, kesatuan ini mampu mengendalikan sultan yang nyata-nyata sebagai pemimpin tertinggi, mereka mampu menentang pemberlakuan sebuah aturan. Apabila sang sultan tidak mendengar mereka, mereka akan menggulingkan sang sultan dan menggantinya dengan sultan yang bisa mereka kendalikan.

Waktu itu mereka menolak keputusan sultan Murad III yang akan memberantas minuman keras, karena mereka suka meminumnya.

Baca juga :


Battle of Karansebes
Ottoman
Turki Utsmani
Khilafah
Sejarah Islam

Read More

Minggu, 05 November 2017

Muhammad Ali,Terungkap Fakta di Balik Islamnya Sang Legenda Tinju Dunia

November 05, 2017 0
Terlahir dalam ras kulit hitam Amerika Serikat di tengah negara ini masih menganut politik rasis yang sangat kental tidak menghalangi Muhammad Ali menjelma menjadi petinju legendaris dan tokoh Islam yang dikenang sepanjang masa.

source: pondokislami.com

Selama karir bertinju profesionalnya Muhammad Ali tercatat mengoleksi 57 kemenang, 37 diataranya menang TKO. Dan hanya kalah 3 kali dan 3 kali pula dia meraih gelar juara dunia.

Muhammad Ali dilahirkan di kota Louisville, negara bagian Kentucky Amerika Serikat pada tanggal 17 Januari 1942 dengan nama babtis Cassius Marcellus Clay Jr.

Kisah Nyata Bocah Katholik Islamkan Ribuan Orang

Sang ayah (Cassius Marcellus Clay Sr.) berprofesi sebagai pelukis billboard (papan reklame) dan rambu lalu lintas. Sedangkan ibunya bernama Odessa Grady Clay hanyalah seorang puncuci pakaian.

Mengenal dunia tinju karena kehilangan sepeda BMX

sourc: nytimes.con

Muhammad Ali kecil dan olahraga tinju memiliki keunikan kisah, saat usianya masih 12 tahun dia kehilangan sepeda saat ia bermain di tempat olahraga di kota Louisville.

Muhammad Ali kecil melaporkan kehilangan sepeda yang dialaminya kepada seorang polisi. Di hadapan polisi tersebut dia mengungkapkan kemarahannya. "Akan kuhajar sampai remuk dan kupukul sampai luka parah orang yang curi sepedaku!"

Download Gratis Murattal Al Qur'an MP3 Lengkap 30 Juz (Saad Al Ghamidhi)

Petugas polisi yang bernama Joe Martin itu rupanya seorang pelatih tinju anak-anak. Dia lalu menanggapi kejengkelan Muhammad Ali dan berpesan kepadanya jika dia mau menghajar orang sampai babak belur dia harus berlatih tinju.

Di tahun 1954 saat usianya 12 tahun itulah dia mulai berlatih tinju di bawah asuhan Joe Martin, Ali sangat antusias berlatih dan menunjukkan bakat yang luar biasa di ring tinju.

Namanya mulai dikenal di dunia tinju setelah dia menjadi juara dan mempersembahkan medali emas untuk negaranya pada gelaran Olimpiade di kota Roma tahun 1960.

Berselang 4 tahun kemudian Ali (saat itu masih bernama Cassius Clay) menjadi sangat tersohor di dunia setelah mengalahkan Sonny Litson petinju yang sebelumnya sangat diunggulkan.

Fight Of Gods, Satu Lagi Game Penista Agama

Kemenangan Ali ini menjadikannya ikon kebanggaan bagi masyarakat kulit hitam Amerika dalam perjuangan hak-hak sipil Amerika, masyarakat kulit hitam saat itu mendapat perlakuan disktiminatif di segala lini kehidupan berbangsa masyarakat Amerika.

Dihukum penjara selama 3 tahun

Muhammad Ali tidak hanya keras di dalam ring, dia juga keras di kehidupan sehari-hari terutama dalam hak asasi manusia.

Ali terbiasa dengan penentangan, setelah menentang perlakuan rasis yang dialami masyarakat kulit hitam Amerika, dia juga menentang keterlibatan negaranya dalam perang Vietnam.

Kisah Pilu Seorang Ibu Tewas Melahirkan Setelah Mandul Belasan Tahun

Penentangannya diwujudkan dengan menolak ikut wajib militer yang akan mengirimnya berperang ke Vietnam. Dalam sebuah catatan terkenal dia mengungkapan "Saya tidak punya masalah dengan orang Vietcong, dan tidak ada orang Vietcong yang memanggilku dengan panggilan Nigger.

Tulisan Ali saat itu:
Kenapa mereka menyuruh saya mengenakan seragam dan meninggalkan rumah 10.000 mil jauhnya hanya untuk menjatuhkan bom dan memerangi orang-orang Vietnam yang berkulit cokelat, sedangkan orang-orang kulit hitam di kota Louisville diperlakukan layaknya anjing.

Atas tindakannya ini, pengadilan lalu menjatuhkan hukuman 5 tahun kepadanya, Komisi Tinju Amerika mencabut izin bertandingnya di seluruh wilayah negara bagian Amerika Serikat dan mencabut passportnya.

Beruntunglah hukumannya ditangguhkan saat dia telah menjalani 3 tahun masa hukuman. Saat itu gelombang protes warga Amerika terhadap keterlibatan negaranya dalam perang Vietnam semakin besar. Izin bertinjunya juga dipulihkan.

Fight of the Century

Setelah izin bertinjunya dipulihkan, adalah Oscar Bonadeva yang jadi penantang pertamanya. Muhammad Ali menunjukkan kelasnya meski 3 tahun hilang dari ring tinju, dia menang TKO atas Boneva.

Kemenangan atas Boneva menghantarkannya ke pertandiangan yg lebih berat. Kali ini sang juara dunia Joe Friezer sudah menantinya di depan mata.

Muhammad Ali mengalami kekalahan atas Frizer, dan tercatat sebagai kekalahan pertama dalam karir tinju profesionalnya. Di pertandingan kedua mereka bertemu lagi, kali ini Frizer kalah.

Tahun 1974 Muhammad Ali menghadapi Goerge Freman dengan kemenangan mutlak sehingga menyabet lagi gelar juara dunia.

Muhammad Ali menjadi muallaf dari sebuah kartun

Sebuah cerita unik Muhammad Ali datang dari pengakuan mantan istrinya Khalilah Ali atau Belinda Boyd sebelum diperistri Ali.

Khalilah menceritakan hari hari bersama Ali. Ketika mereka bertengkar dan Ali terlihat tidak bisa mengendalikan diri.

Khalilah tahu cara mengatasinya, diambilnya secarik kertas dan pena kemudian meminta Ali duduk tenang dan menuliskan alasan utamanya memeluk agama Islam.

Dalam secarik kertas tersebut Ali menuliskan pengalaman hidupnya jauh ketika dia masih bernama Cassius Clay Jr.

Cassius Clay yang masih remaja itu berjalan di kota Lousville, di tengah jalan dia melihat seorang penjual koran mengenakan jas mohair hitam, koran yang dijualnya adalah koran Nation of Islam, sebuah organisasi Islam di Amerika.

Menarik perhatian Muhamad Ali karena dia tahu Nation of Islam dipimpin oleh Elijah Muhammad. Elijah Muhammad lah yang mengenalkan organisasi ini kepadanya, organisasi yang banyak memperjuangkan Hak-hak Sipil Amerika waktu itu.

Satu eksemplar koran diraihnya, mencoba melihat-lihat isinya, matanya lalu tertuju ke sebuah gambar kartun yang lebih terlihat seperti sebuah karikatur.

Gambar itu menyajikan pemandangan miris di mata Ali. Gambar seorang tuan (pemilik budak) kulit putih menyiksa budak kulit hitamnya dan memaksanya berdoa kepada Yesus.

Dia berakhir pada satu kesimpulan bahwa Kristen adalah agama yang dipaksakan kepada budak-budak.

Kartun tersebut membuka paradigmanya bahwa agama bukan warisan dan nama Cassius Clay tidak dipilihnya. Jadi alasan apa lagi dia harus menyimpan sisa-sisa perbudakan yang menyengsarakan kaumnya.

Kalau nama dan agama tidak harus dijaganya, apa lagi yang harus diperbuat.

Muhammad Ali akhirnya memantapkan sikapnya menerima Islam, 2 kalimat syahadat diucapkannya dengan penuh keikhlasan. "Saya beriman kepada Allah dengan damai." Tulisnya.

Ketika orang-orang mewawancarainya perihal ketertarikannya kepada konsep Islam, Cassius Clay Jr. yang saat itu sudah resmi mengganti namanya menjadi Muhammad Ali, membeberkan pengakuannya.

Tragedi Rohingya. Saksi Mata: Tentara Myanmar Pancung dan Bakar Muslim Rohingya Hidup-Hidup Termasuk Anak-Anak

"Dalam hidupku, belum pernah saya menyaksikan cinta sedemikian banyak, peluk dan cium diantara orang-orang Islam, rutinitas shalat 5 waktu, adab mereka makan, dan pakaian wanitanya panjang-panjang.

Anda saling bertegur sapa dengan saudara-saudara Islam anda, dalam Islam anda punya saudara, anda punya rumah.

Saya memilih Islam karena saya tahu Islam mendekatkanku dengan hubungan persaudaraan kepada siapa saja tanpa perbedaan.

Sebagai penganut Kristen di Amerika saya tidak merasakan hal yang sama, anda tidak bisa pergi beribadah ke gereja orang-orang kulit putih.

Kami tidak mendapatkan kebaikan dan kebebasan di Amerika seperti yang saya dapatkan di negeri-negeri muslim.

Sumber : Museum sejarah Afrika Amerika

Baca juga :



Read More

Post Top Ad