Catatan Sejarah Kekejaman PKI terhadap Islam - ISLAM ID

ISLAM ID

Portal Berita Islam Anti Hoax

Hot

Post Top Ad

Jumat, 29 September 2017

Catatan Sejarah Kekejaman PKI terhadap Islam

Partai Komunis Indonesia pernah jaya di Indonesia, partai ini juga berlumuran darah ulama dan para santri.

Sejarah PKI

Cikal bakal PKI telah ada saat Indonesia masih bernama Hindia Belanda, dipelopori oleh seorang Sosialis Belanda bernama Henk Sneevliet. Sneevliet mendirikan Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) atau Partai Sosialis Hindia Belanda pada tahun 1914.

ISDV lahir ditengah kapitalisme global, bentuk perjuangnanya radikal dan anti kapitalisme, sehingga Sneevliet dikembalikan ke Negeri Belanda oleh pemerintahnya sendiri.

Ketiadaan Sneevliet di Indonesia tidak menjadikan ISDV kemudian mati, organisasi ini terus berjalan, kali ini mayoritas anggotanya diisi oleh orang-orang pribumi, tampillah Semaun dan Darsono yang menjadi legenda PKI, Semaun sebagai Ketua dan Darsono wakilnya.

Pada Mei 1920 saat kongres ISDV di Semarang, ISDV berubah nama menjadi Perserikatan Komunis di Hindia (PKH), baru pada tahun 1924 diperkenalkanlah istilah untuk organisasi ini menjadi Partai Komunis Indonesia.

Sepak Terjang Partai Komunis Indonesia (PKI)

Sejarah mencatat, Partai ini selalu berontak dan blunder, pemberontakan-pemberontakan bukan barang baru bagi mereka, pemberontakan mereka bahkan ketika Indonesia belum merdeka.

Pada tahun 1926 di usianya yang masih belia, PKI melakukan pemberontakan kepada penguasa Kolonial waktu itu, mereka berharap bisa menggantikan pemerintah kolonial Belanda di bumi pertiwi. Pemberontakan ini dengan mudah dibasmi oleh pemerintah kolonial Belanda, orang-orang Komunis waktu itu banyak dijebloskan ke penjara dan dibuang ke Boven Digoel, Papua.

Sialnya, aksi pembersihan ini juga menyasar kepada orang-orang pergerakan Indonesia non komunis.


Petualangan politik PKI ini tidak memberikan efek positif bagi Bangsa Indonesia, sebaliknya pemerintah kolonial Belanda semakin curiga dan semakin refresif membatasi pergerakan politik kaum pergerakan Indonesia yang sama-sama bercita-cita Indonesia Merdeka.

Selanjutnya petualangan politik kedua PKI terjadi pada tahun-tahun awal kemerdekaan Indonesia, dimana fokus dan tenaga Republik Indonesia harusnya diarahkan untuk melawan penjajah Belanda yang ingin kembali menjajah Indonesia namun PKI menikam Republik dari Belakang.

Pada 18 September 1948 di madiun, PKI memproklamirkan berdirinya Negara Republik Soviet Indonesia, pada pemberontakan PKI kali inilah kisah mengerikan pembantaian PKI terhadap alim ulama dan satri-santri terekam oleh tinta sejarah,peristiwa kelam tersebut digambarkan oleh seorang antropolog asal Amerika bernama Robert Jay.

“Mereka (PKI) menggunakan kekuatan mereka untuk melenyapkan pejabat pemerintah, penduduk biasa, ulama-ulama tradisional, santri dan orang-orang yang taat pada Islam. Mereka ditembak, dibakar sampai mati, dimutilasi, kadang-kadang ketiganya sekaligus. Masjid dan madrasah dibakar, rumah-rumah pemeluknya mereka rampok dan rusak.”

Ulama-ulama dan santri mereka kunci di dalam madrasah, lalu bangunan madrasah tersebut dibakar.

Source: www.kompasiana.com

Serangan PKI ke Pondok Pesantren Gontor

Pada pemberontakan PKI 1948, Pondok Pesantren Gontor tidak luput dari serangan PKI, saksi hidup peristiwa tersebut adalah Prof Dr. Amal Fathullah Sarkasy (Putra alm Imam Sarkasyi kyia pondok pesantren Gontor)
Tahun 1948 di Madiun sangat mencekam, dimana PKI secara sepihak memproklamirkan berdirinya negara Soviet Indonesia yang berfaham Komunis, dan beribukota di Madiun.

Magetan, Ponorogo dan Pacitan menjadi sasaran PKI, kyai-kyai di pondok pesantren di Magetan sudah dihabisi oleh PKI, data menunjukkan sekitar 168 orang tewas dibantai PKI, semuanya dikubur hidup-hidup.

Tercatat, antara tanggal 18 higga 21 September 1948, FDR/PKI telah membunuh pejabat-pejabat negara baik sipil maupun militer, tokoh masyarakat, tokoh politik, tokoh pendidikan, bahkan tokoh agama. 

Baru pada tahun 1950 awal Januari, setelah FDR/PKI dilumpuhkan, sumur-sumur ‘neraka’ yang dighunakan untuk mengubur para korban dibongkar oeh pemerintah yang juga disaksikan langsung oleh masyarakat. 

Di salah satu sumur ‘neraka’, di sumur tua Desa Soco, ditemukan sekitar 108 jenazah korban kebiadaban PKI. Sebanyak 78 diketahui dan berhasil diidentifikasi sementara sisanya tidak. Salah satu yag dapat diidentifikasi itu adalah jenazah KH Soelaioman Zuhdi Affandi, pimpinan Ponpes Ath-tohiri Mojopurno, Magetan. 

Kemudian lainnya ada Kyai Imam Mursjid Muttaqin, Mursyid Tarikat Syattariyah Pesantren Takeran. Jasadnya ditemukan di Sumur ‘neraka’ II Desa Soco, Kecamatan Bendo, Kabupaten Magetan/ ada juga Kyai Zoebair, Kyai Malik, Kyai Noeroen dan Kyai Moch Noor. 

Di sumur yang sama ditemukan juga jasad R Ismaiadi, Kepala Resort Polisi Magetan, R Doerjat (Inspektur Polisi Magetan), Kasianto, Soebianto, Kholis, Soekir (keempatnya anggota Polri), dan masih banyak pejabat serta ulama lainnya.

Tidak ada komentar:

Post Top Ad