Tragedi Rohingya. Saksi Mata: Tentara Myanmar Pancung dan Bakar Muslim Rohingya Hidup-Hidup Termasuk Anak-Anak - ISLAM ID

ISLAM ID

Portal Berita Islam Anti Hoax

Hot

Post Top Ad

Rabu, 06 September 2017

Tragedi Rohingya. Saksi Mata: Tentara Myanmar Pancung dan Bakar Muslim Rohingya Hidup-Hidup Termasuk Anak-Anak

Tentara Myanmar diduga kuat melakukan kejahatan serius terhadap kemanusiaan berupa memancung dan membakar hidup-hidup warga etnis muslim Rohingya termasuk anak-anak di Rakhine Myanmar.


Diberitakan oleh surat kabar tersohor di Inggris, The Independent. Seorang saksi mata warga Rohingya bernama Abdul Rahman (41 tahun) menuturkan kejadian tersebut saat tentara Myanmar memasuki desa mereka (desa Chut Pyin) dengan dalih memburu para pejuang Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA).

Baca disini : Para Pemuda Muslim Rohingya Akhirnya Angkat Senjata

 “Saudara saya terbunuh, tentara Myanmar membakarnya." Ungkap Abdul Rahman kepada Fortify Rights, lembaga amal yang melakukan tugas sehari-hari disana.

Menurut keterangan Abdul, tentara Myanmar menangkapi warga dan mengurung mereka di gubug-gubug bambu, lalu mereka dibakar hidup-hidup.

“ Saya mendapati keluarga kami di sebuah sawah, di tubuh mereka banyak luka bekas peluru dan luka-luka lainnya.”

“Kakak ipar saya ditembak”    
                                                   
“dua orang keponakan saya juga dipenggal” tambahnya.

Abdul Rahman merupakan salah seorang yang sempat menyelamatkan diri dari pembersihan yang dilakukan oleh tentara Myanmar di desa Chut Pyin, penduduk yang selamat dari desa-desa lain rupanya memberikan kesaksian yang tidak berbeda mengenai situasi mengerikan yang telah mereka alami.

Kesaksian datang dari pengakuan Sultan Ahmad (27 tahun), saat ditemui Fortify Rights mengatakan bahwa orang-orang dipenggal. “Kami sembunyi ketika tentara dari desa tetangga memancung orang-orang. Saat kami menyaksikan kejadian itu, kami keluar dari rumah kami lewat belakang rumah.”

Lembaga Fortify yang diketuai oleh Matthew Smith segera angkat bicara dan menegaskan bahwa tekanan oleh komunitas internasional saat ini sangat diperlukan untuk menekan Myanmar menghentikan kekerasan yang terjadi, menurutnya Myanmar telah gagal melindungi warga sipil. 

“Tekanan Internasional sangat dibutuhkan!” Tegas Smith

Artikel terkait Begini Cara Keji Myanmar Cegah Muslim Rohingya Kembali ke Rakhine

Dalih Pembumihangusan oleh Militer Myanmar 


Setelah peristiwa penyerangan oleh pejuang ARSA, yang menewaskan beberapa personil keamanan Myanmar. 

Tampaknya peristiwa ini kemudian dijadikan dalih oleh militer Myanmar memasuki desa-desa di Rakhine, membumi hanguskan rumah-rumah, membunuhi warganya dengan cara menembak, menyiksa, bahkan membakarnya hidup-hidup.

Sorce : www.reuters.com
Sedangkan kekerasan yang dialami oleh warga etnis muslim Rohingya sudah terjadi beberapa kali meski tanpa diawali oleh aksi gerakan perlawanan apapun. 

Kekerasan yang paling parah terhadap mereka terjadi di tahun 2012 dan 2015, ketika itu ratusan warga rohingya diberitakan tewas atau hilang dalam kekerasan yang melibatkan warga budha dan tentara.

Masih di tahun yang sama, Human Right Watch (Lembaga Pemantau HAM), merilis laporan tentang situasi warga Rohingya tahun 2012, Lembaga itu melaporkan bahwa 125 ribu warga etnis muslim Rohingya terusir ke Bangladesh dan belum kembali. Dalam laporannya memuat bahwa situasi yang menimpa warga Rohingya merupakan Genocide (pembersihan etnis).

Sedangkan pemerintah Myanmar selalu saja  membantah tuduhan melakukan pelanggaran HAM dan Genosida, bantahan datang dari Aung San Suu Kyi sosok pemenang nobel perdamaian tahun 1991 silam, mengatakan bahwa tidak terjadi pembersihan etnis di Rakhine. 

Berikut artikel lengkapnya Aung San Suu Kyi Tak Pantas Terima Nobel Perdamaian, Pembantaian Muslim Rohingya Terus Berlanjut

Vivian Tan, jurubicara UNHCR (lembaga PBB yang mengurusi masalah pengungsi) baru-baru ini mengeluarkan pernyataan resmi bahwa sekitar 73 ribu warga Rohingya melarikan diri ke Bangladesh, sejak kekerasan yang bermula pada Jumat (27/08/2017) sekitar 400 orang tewas akibat serangan militer.

Menunggu Langkah Nyata Menekan Myanmar

Kurang apa lagi untuk Mengucilkan negara kecil Myanmar dari komunitas internasional, atau menjatuhkan embargo, sampai menyeretnya ke mahkamah internasional, bukti-bukti otentik keterlibatan tentara Myanmar melakukan pelanggaran serius terhadap etnis muslim Rohingya sudah disodorkan di depan meja. 

Bukti-bukti datang dari saksi mata kejadian, pemantau HAM,  ataupun orang-orang dari lembaga-lembaga kemanusian bonafide yang bertugas disana.

Bukankah tidak diperlukan pengakuan untuk menyatakan bahwa satu pihak bersalah dalam suatu kejadian, yang diperlukan hanyalah bukti-bukti kuat dan otentik.

Saat editing artikel ini, baru saja selesai pertandingan sepak bola piala AFF U-18 antara Indonesia Vs Myanmar, muncul dalam pikiran penulis. Komunitas Asean yang mewadahi pergelaran AFF (Asean Football Federation) di Myanmar kali ini, begitu tidak peka.

Disebabkan di Rakhine saat ini terjadi tragedi kemanusiaan berupa genosida oleh negara Myanmar, namun tidak ada upaya pengucilan terhadap negara ini, sehingga bebas melangsungkan even sepakbola akbar zona asean (AFF).

Berbeda halnya ketika tempo dulu Indonesia memiliki sosok presiden seberani Soekarno, saat itu Soekarno yang terkenal anti Israel menolak tim nasional (timnas) Indonesia bertanding menghadapi timnas Israel dalam babak penyisihan babak kedua Piala Dunia zona Asia tahun 1958 demi solidaritas kepada Palestina yang wilayahnya dirampok Zionis Israel.


credit to Faikha Mjuhammad A/ www.google.com
Bagaimana Indonesia saat ini?  Jangankan menolak bertanding melawan timnas Myanmar, upaya pemerintah mengucilkan negara ini, atau memutuskan hubungan diplomatik tidak pernah menjadi inisitif pemerintah menanggapi isu kekerasan di Myanmar, hanya kecaman-kecaman yang tidak punya efek nyata.

Baca disini : Kutuk Pembantaian Muslim Rohingya, DPR RI Desak Pengusiran Dubes Myanmar

Untungnya, garuda muda di stadion Thuwunna di kota Yangon, membantai timnas Myanmar dengan skor telak 2-0.

Tidak ada komentar:

Post Top Ad