Pertempuran Karansebes, Ketika Pasukan Islam Mengalahkan Koalisi Pasukan Eropa Tanpa Peluru dan Korban Jiwa - ISLAM ID

ISLAM ID

Portal Berita Islam Anti Hoax

Hot

Post Top Ad

Minggu, 28 Januari 2018

Pertempuran Karansebes, Ketika Pasukan Islam Mengalahkan Koalisi Pasukan Eropa Tanpa Peluru dan Korban Jiwa

Ada pepatah mengatakan bahwa dalam pertempuran yang kalah menjadi abu dan yang menang menjadi arang nampaknya tidak berlaku bagi pasukan Turki Utsmani. Pasukan Utsmani memenangkan pertempuran dan menaklukkan satu wilayah tanpa menembakkan sebutir peluru dan pastinya juga tanpa korban jiwa di pihak mereka.

Baca juga :

Terdengar konyol dan mustahil, tetapi kisah ini nyata dan pernah terjadi.

Perang ini terjadi pada tanggal 17 September 1788 di sebuah daerah bernama Karansebes (sekarang Rumania).

Perang Karansebes adalah satu dari serentetan peperangan antara Turki Utsmani melawan Austria yang terjadi dalam rentang tahun 1787 hingga 1791.

Sejarah mencatat kehebatan pasukan muslim menaklukkan Eropa, pasukan muslim di bawah bendera Utsmaniah menjadi kekaisaran adi daya yang kekuasaannya membentang dari daratan Asia, afrika dan Eropa.

Turki Utsmani (Ottoman)

Bagaimana perang Karansebes terjadi?

Peristiwa ini diabadikan oleh A J Gross Hoffinger dalam bukunya yang berjudul Geschichte Josephs des zweiten 59 tahun setelah peristiwa itu terjadi.

Ketika itu Austria berusaha sekuat tenaga membendung laju pasukan Utsmani menancapkan kekuasaannya sejengkal demi sejengkal tanah Eropa, untuk itu Austria bersekutu dengan Jerman dan negara-negara Eropa lainnya.

Mereka mengumpulkan segenap kekuatan, mendatangkan alutsista yang paling canggih yang mereka miliki, meriam super dahsyat, pemanah-pemanah dari Italia, serta pasukan-pasukan dari berbagai latar belakang bahasa dan budaya.

Tercatat pada waktu itu aliansi Eropa memiliki jumlah pasukan lebih dari  100 ribu orang siap merepotkan pasukan utsmani.

Mereka melakukan persiapan di daerah Karansebes, seperti biasanya sembari menunggu kedatangan pasukan utsmani dan mempersiapkan pertahanan sekuat mungkin, waktu senggang mereka habiskan untuk bersantai.

Beberapa pasukan Hussar (kavaleri) ditugaskan mencari lokasi kehadiran pasukan Utsmani, mereka pun menyeberangi sungai Timis, namun tidak ada tanda-tanda kehadiran pasukan Utsmani di sana, yang ada hanya orang-orang Gipsi (Orang Rumania) yang menawarkan Schnapps (tuak tradisional) kepada mereka. Di tempat itu mereka minum-minum sampai mabuk.

Tak berapa lama kemudian datang pasukan infanteri yang juga ditugaskan melintasi sungai Timis, kedua pasukan ini bertemu, pasukan infanteri juga ingin ikut minum-minum namun pasukan kavaleri tidak ingin berbagi dengan mereka.

Gambar ilustrasi

Dalam kondisi mabuk, cekcok terjadi antara mereka menjadi semakin panas, tiba-tiba seseorang di antara mereka mulai menembakkan senjatanya, mereka semakin kalap, perkelahian satu sama lain semakin hebat. Pasukan infanteri menerikkan kata-kata "Turci ! Turci !" (Turki) untuk menakuti mereka agar membubarkan diri.

Tetapi blunder terjadi, semua pasukan panik menyangka pasukan Turki Utsmani telah datang menyerang, mereka berhaburan, lari pontang panting menuju posisi masing-masing. Karena mereka masih dalam pengaruh alkohol, kawan-kawan mereka disangka pasukan Turki, mereka menembaknya dan saling tembak antara mereka terus terjadi.

Kesalah pahaman bahasa terus menjadi blunder fatal di antara pasukan Eropa ini ketika perwira-perwira yang berbahasa Jerman menerikkan kata-kata "halt! halt!" yang maksudnya perintah untuk berhenti yang malah dianggap pasukan lain sebagai kata "Allah! Allah!

Baca juga :


Di titik lain pasukan Hussar sudah kembali ke markas mereka di seberang sungai Timis, masing-masing sudah berada di belakang moncong meriam mereka. Perwira Austria mengira serangan itu dari kavaleri Utsmani, dan memerintahkan menghujaninya dengan meriam.

Mendengar dentuman suara meriam, pasukan yang lain terbagun dan panik berlarian, mengira pasukan Utsmani ada dimana-mana sehingga mereka juga menembak kemana-mana.

Pasukan yang tersisa dari insiden itu mulai menyelamatkan diri, mereka mundur dari garis pertahanan mereka yang tadinya begitu kokoh.

Dua hari kemudian barulah pasukan Utsmani tiba di Karansebes, namun yang mereka jumpai hanyalah kerusakan dan mayat-mayat pasukan Eropa yang bergelimpangan dimana-mana.

Iring-iringan pasukan Turki Utsmani

Karansebes pun dikuasai oleh pasukan Utsmani dengan begitu mudah.

Kisah ini terdengar konyol, namun begitulah sejarah menuliskan apa adanya. Dalam Islam, khamr sangat diharamkan karena merupakan sumber keburukan. Sejarah pernah menuliskan kehebatan imperium Islam Turki Utsmani, namun sejarah juga yang menuliskan masa-masa kemundurannya dan akhirnya runtuh pada tahun 1922.

Sejarah kemunduran Turki Utsmani salah satunya disebabkan oleh khamr, ya khamr. Itu tidak salah. Pada masa pemerintahan sultan Murad III merebak kebiasaan buruk dalam masyarakat dan elit ketentaraan Utsmani yaitu bermabuk-mabukan, sultan Murad III berusaha memberantas penyakit masyarakat ini.

Baca juga :



Namun pada waktu itu Janissary yang dulunya sebagai pasukan elit dan garda terdepan pengawal Utsmani menjelma menjadi seperti benalu, kesatuan ini mampu mengendalikan sultan yang nyata-nyata sebagai pemimpin tertinggi, mereka mampu menentang pemberlakuan sebuah aturan. Apabila sang sultan tidak mendengar mereka, mereka akan menggulingkan sang sultan dan menggantinya dengan sultan yang bisa mereka kendalikan.

Waktu itu mereka menolak keputusan sultan Murad III yang akan memberantas minuman keras, karena mereka suka meminumnya.

Baca juga :


Battle of Karansebes
Ottoman
Turki Utsmani
Khilafah
Sejarah Islam

Tidak ada komentar:

Post Top Ad