Rumah Pak Dar Kebakaran - ISLAM ID

ISLAM ID

Portal Berita Islam Anti Hoax

Hot

Post Top Ad

Minggu, 11 Februari 2018

Rumah Pak Dar Kebakaran

Hei, teman. Ada kebakaran...!
Teriak panik Irmawin teman kantorku dari seberang jalan.
"Ahh bercanda" pikirku santai mengingat teman yang satu ini memang sering
membuat kekonyolan dan hoax. Aku masih duduk santai dan melanjutkan kerja laporan penjualan sore itu.
Perusahaan P&G tempatku berkarir memang mewajibkan kami para sales membuat laporan penjualan setelah seharian berjualan mengelilingi pelosok kota Barru.

Sontak, aku ikut berhambur keluar ketika teman di sebelah dudukku menyadari ada yang tidak beres dan segera keluar memeriksa keadaan. Benar saja, asap hitam nan tebal sudah membumbung tinggi dari kejauhan.

"oh, Tuhan. Asap itu dari arah rumahku"
Batinku gelisah, otakku tiba2 jadi beku, tenggorokan seperti tecekat tak mampu berkata-kata.
Kulirik motor putih yang terparkir tidak jauh dari tempatku berdiri terpaku, sial. Sadle bag  dan barang-barang sisa jualan masih terpasang di sadle nya, pasti lama membereskannya. Ahh, kukayuh saja langkahku meski kaku, berlari menembus kerumunan orang yang datang dari berbagai tempat, sekedar untuk mengabadikan peristiwa itu dengan kamera ponselnya.

Di pikiranku terbayang-bayang ayah yang biasanya menyalakan kompor tapi lupa mematikan apinya, bukan hanya sekali ayah melakukan kecerobohan seperti itu di dapur, pernah juga seisi rumah diselimuti bau gas karena dia mematikan kompor dengan tidak sempurna.

Di usianya yang sudah senja, ayah terpaksa melakoni pekerjaan dapur itu setelah mama meninggal beberapa tahun yang lalu, tidak ada lagi perempuan di rumah ini, aku hanya tinggal berdua dengan ayah. Satu hal yang kuakui masakan ayah cukup enak, ayah memang jago masak. Sedangkan aku, sungguh payah, telur goreng saja selalu gosong di tanganku, kalau tidak hambar, pasti keasinan. Jadi urusan dapur dimonopoli ayah, aku biasanya hanya menyuplai uang belanja dan bahan-bahan baku yang jika sempat kubeli dalam perjalanan pulang dari berjualan.

"Ya Allah selamatkan orangtuaku...."
"Dimana kami harus tinggal..."
Aku berlari sambil menangis, bermacam-macam pikiran masih memenuhi kepalaku bergonta-ganti seperti sebuah slide yang tak ada habisnya.

Sampai di rumah, hawa panas menyambutku, seolah memberi isyarat untuk tidak mendekat. Kulihat kobaran api merah meninggi melampaui tinggi atap rumahku. Itu rumah pak Dar, tetangga dekatku, rumah besarnya sudah musnah dilalap api Aku sendiri tak bisa berbuat apa-apa, tenagaku sudah banyak terkuras saat berlari dari tempat kerjaku.


Segala doa komat kamit keluar dari mulutku berpacu dengan tarikan nafasku yang tersengal-sengal. Sebentar lagi apinya menjalar ke rumahku, pikirku mencoba memprediksi.

Dengan sisa tenaga, kuambil air seember, kupanjati tembok pemisah rumah kami, lalu mengambil posisi di atap seng, berharap apinya tidak semakin membesar, 1 ember, 2 ember, berulang-ulang orang-orang PMI yang ikut membantu mensuplai air dari bawah.

Tenagaku tidak cukup besar, airnya tidak cukup banyak, apinya tak kunjung mengecil seolah menertawakan ketidak berdayaan kami. Kali ini aku benar-benar ambruk tenagaku habis, hanya pakaian basah yang masih kurasakan di badanku, basah karena air bercampur keringat, tubuhku tidak mampu lagi digerakkan, aku pasrah.

Tiba-tiba air memercik di atas kepalaku, kucoba membuka mata meski memicing, samar-samar kulihat sang surya masih tinggi di ufuk barat, ini bukan hujan, gumamku mencoba menebak. Benar saja, bantuan sudah datang, mobil damkar kabupaten sudah tiba, si jago merah yang tadinya perkasa pelan tapi pasti menciut tak kuasa membendung berkubik-kubik air yang disemprotkan oleh petugas pemadam kebakaran dengan bertubi-tubi.

Rasa syukur bercampur haru, aku berusaha bangkit. Kulihat pak Darmawan mengais-ngais sisa reruntuhan rumahnya yang kini jadi arang. Mungkin dia mencari barang berharga yang bisa diselamatkan bukankah emas hanya meleleh jika terkena panas, zat nya tidak hilang menguap.

"Pak, tegar ya pak." Teriakku menyemangati dari atas.
"Bukan apa yang hilang pak, tapi apa yang masih ada." Lanjutku
Dia mengangguk tanda setuju, pak Darmawan memang kehilangan rumah dan beberapa sepeda motor, tetapi seluruh anggota keluarganya selamat, aset2 produksinya juga masih berjalan di pusat perdagangan kota Barru.   Harta bisa dicari, tapi nyawa tidak bisa digantikan.

Dari hasil penyelidikan polisi, penyebab kebakaran diakibatkan kecerobohan seseorang yang membakar sampah di tengah terik panas matahari. Sang pelaku sendiri tak pernah dimintai pertanggung jawaban apalagi diproses hukum (konon keluarga si pelaku adalah aparat berpangkat) Hanya Pak Dar sungguh apes, bagian belakang rumahnya kecipratan api pembakaran yang tertiup sang bayu.

Barru, 15 September 2014

Tidak ada komentar:

Post Top Ad